Selasa, 13 Mei 2014
Minggu, 20 Oktober 2013
Rabu, 15 Mei 2013
Apa saja yang perlu dipersiapkan sebelum menekuni unia film?
Episode 2
MEMPERBAIKI dan MEMPERSIAPKAN DIRI
Scene
1. Ext. Rumah Sugoy - Teras depan – Pagi
Apa saja yang perlu dipersiapkan
sebelum menekuni dunia film?
Rumah SUGOY tidak terlalu besar, tapi rumah yang berukuran 150 meter ini
tetap terlihat asri. Apalagi di depannya banyak sekali bunga-bunga dan pohonan
hias.
POFi masih asyik melihat-lihat sambil
mengobrol dengan pembantu di rumah itu yang sedang menyiram dan merawat
beberapa pohon anthorium. Tiba-tiba SUGOY datang menghampiri.
SUGOY
Pagi, Pof!
POFi
Pagi, mas…
SUGOY
Wah…kayaknya lagi asyik banget nih…
POFi
Iya nih, Mas….Seneng aja ngeliat si Mbak merawat anthorium.
Lumayan buat nambah pengalaman.
Ternyata media yang digunakan bukan tanah
seperti kebanyakan media
untuk tumbuh-tumbuhan, tapi akar pohon pakis.
SUGOY tersenyum.
POFi
memandang SUGOY
curiga. Kemudian mengikuti SUGOY
yang mengambil tempat duduk di teras.
POFi
Kenapa, Mas? Kok senyumnya gitu.
SUGOY
Kamu nggak sadar ‘kan
kalau pengamatan kamu itu sangat penting
dan berguna untuk memperkaya memori acting kamu.
Kalau suatu ketika kamu dapat peran sebagai pembantu
yang
merawat pohon anthorium, maka kamu udah punya bayangan,
kira-kira apa
yang harus kamu lakukan.
POFi
Lho, bukannya kalo shooting kita akan diarahkan sama
sutradaranya, Mas?
SUGOY
Bener. Tapi dengan kamu mempunyai refrensi,
paling nggak kamu akan lebih mudah mencerna,
atau
bahkan lebih mampu menghidupkan karakter tokoh yang kamu perankan.
Makanya dalam seni peran atau akting, setiap pemain
diwajibkan observasi terhadap tokoh yang diperankan
POFi
Maksudnya, Mas?
Behind the scene Sinetron “TIRANI
KEHIDUPAN”
Deddy Soetomo & Meriam Bellina (dok. Indosiar-2001)
SUGOY
Observasi sangat diperlukan oleh seorang aktor
untuk mengetahui
gambaran lebih detail tentang
karakter tokoh yang akan diperankan.
Misalnya
kamu mendapat peran seorang
yang sedang menderita penyakit lupus.
Nah.. gimana
kamu bisa memerankan karakter tersebut
kalo kamu nggak punya pengetahuan
tentang penyakit itu
dan efek yang ditimbulkan bagi sipenderitanya.
Makanya
diperlukan observasi.
POFi
Iya, yah…. Kalo kita nggak tau,
pasti waktu merankan tokoh
tersebut akan terlihat hambar,
karena kurang penghayatan.
SUGOY
Bahkan seharusnya bukan hanya saat kamu mendapat peran.
Tapi
dalam kehidupan sehari-hari pun kamu
harus selalu observasi dan merekam setiap
kejadian dalam memori kamu.
POFi
Berarti kita nggak boleh cuek ama lingkungan dong ya, Mas?
SUGOY
Bener banget..!
Salah satu persiapan kamu sebelum menekuni
dunia film
adalah rajin mengamati karakter
dan kegiatan orang-orang yang kamu temui.
Dari situ memori kamu akan
semakin kaya
dengan berbagai karakter manusia.
POFi serius banget ngedengarinnya.
Tiba-tiba pandangannya beralih pada pembantu yang datang membawa 2 gelas kopi
hangat dan sepiring brownies.
PEMBANTU
Diminum, Neng….
SUGOY
Hayo.. sambil dimakan
POFi
Iya, Mas….
SUGOY
Jadi kalau suatu waktu kamu mendapat peran tertentu,
kamu
tinggal mengingat kembali, oh.. karakternya kayak gini.
Atau mungkin kamu sudah
dapat gambaran
gimana kalo seorang pembantu menyediakan minuman untuk tamunya.
POFI tersenyum, karena dari tadi dia
memang memperhatikan pembantu yang menyediakan makanan dan minuman di meja.
POFi
Tapi refrensinya nggak hanya dari kehidupan sehari-hari ‘kan , Mas?
Maksud saya,
bisa juga dari film.
SUGOY
Boleh, darimana pun kamu bisa mendapatkan refrensi,
tapi kalo
kamu melihat langsung karakter aslinya,
itu akan jauh lebih menguntungkan,
karena kamu bisa lebih
mengembangkannya
dan nggak akan dicap meniru akting orang lain.
Dan yang
penting, kamu bisa merasakannya dan bisa lebih bersinergi,
karena kamu sudah
pernah melihat langsung.
Behind the scene Sinetron “TIRANI
KEHIDUPAN”
Meriam Bellina memerankan tokoh yang
menderita penyakit Lupus
(dok.
Indosiar-2001)
POFi
Iya, Mas… Saya semakin ngerti pentingnya observasi.
Terus apalagi yang perlu kita persiapkan sebelum
menekuni dunia film, Mas?
SUGOY
Ya..itu tadi, banyak observasi tentang karakter manusia.
Jaga kesehatan atau stamina.
Karena dunia film membutuhkan
stamina yang tinggi.
Kamu dituntut harus selalu fit dan penuh konsentrasi.
Kamera akan selalu menangkap detail wajah dan ekspresi kamu.
Penonton
nggak pernah mau tau
apa yang kamu alami atau bagaimana pun kondisi kamu saat shooting.
Mereka tetap ingin melihat kemampuan kamu
memerankan tokoh yang kamu perankan
dengan baik.
POFi
Wah.. berat juga ya, Mas…
Padahal shooting kan sangat menguras energi, so pasti kita
kelelahan.
Terus gimana caranya menyiasati kalau kita sudah kelelahan?
SUGOY
Itulah gunanya manajemen waktu.
Kamu harus pandai-pandai
memanfaatkan waktu kosong untuk istirahat,
Misalnya kamu ‘kan bisa tidur untuk memulihkan staminamu.
POFi
Iya, Mas.. .
Terus apalagi?
SUGOY
Sebagai pendatang baru, kamu harus banyak berlatih
untuk mendukung
dan mengembangkan akting kamu.
POFi
Wah.. bener banget! ini yang saya tunggu, Mas.
Latihannya apa
saja sih, Mas?
SUGOY
Banyak banget.
Nanti aku ajak kamu melihat teman-teman
yang
sedang berlatih di sanggar.
POFi
Mau, Mas… mau banget.. Makasih ya....!
SUGOY menjawab dengan senyuman. Dia suka
melihat orang-orang yang mempunyai semangat dan motivasi tinggi.
CUT
TO :
(sumber : buku POFi - Pegangan Orang Film, penerbit PT. Elexmedia)
Selasa, 10 Mei 2011
Cuplikan Hasil Ujian Peserta Classs Acting Pure Management Angk. 1
Setelah 3 bulan para peserta class acting di "Pure Management" mendapatkan pelatihan acting,
kemudian para peserta diuji mental dan kemampuan actingnya di jalan raya sebagai anak jalanan.
Sesuai namanya, Ujian, jadi para peserta tidak mendapatkan pengarahan seperti shooting yang sebenarnya.
Skenario pun tidak detail, karena diharapkan para peserta akan berimprovisasi.
Jumat, 01 Januari 2010
Apakah kamu cocok jadi artis?
Scene 2. Ext. Halaman Sekolah – Siang
Apakah kamu cocok jadi artis film / sinetron?
Trio Harimau Gaul, 3 Cewek Cantik yang tergabung pada genk HARI-hari MAUnya GAUL terus mencoba merayu Indah untuk bergabung dengan genk mereka. Semula Indah menolak, Tapi karena dia mempunyai misi khusus, akhirnya Indah menerima.
Behind the scene FTV “BUNGA Jomblo Forever”
Indah Pelapory, Viscka, Achied, Derriel berperan sebagai siswi SMA
(dok. Indosiar-2007)
“CUT!!!” terdengar teriakan SUGOY, “Break maksi (makan siang)” lanjut sutradara muda ini.
POFi menunggu di salah satu sudut halaman sekolah. Tidak lama kemudian SUGOY datang.
SUGOY
Sori, lama nunggu ya?
POFi
Nggak apa-apa kok, Mas. Kan sekalian ngeliat-liat suasana shooting. Malah ingin buru-buru terlibat shooting.
SUGOY
(mengumbar tawanya)
Ha..ha..ha…Memang kamu cocok jadi artis?
POFi
Lho kok gitu, Mas?
SUGOY
Gini, Kalo kamu punya sifat pemalu atau tertutup, lupain aja deh dunia film.
POFi
Memangnya kenapa?
SUGOY
Setiap hari kamu harus berhubungan dengan orang yang nggak kamu kenal. Bayangkan, tiap judul baru, kamu akan ketemu dengan pemain atau crew baru. Kalau kamu pemalu, maka akan sulit beradaptasi.
Ujung-ujungnya kamu akan gerogi dan nggak bisa menguasai suasana waktu shooting.
POFi
Pantes, kalau lihat orang film, meskipun baru kenal, tapi kayak sudah kenal lama. Oya, mas. Mengenai cantik atau kegantengan gimana? Apakah seorang artis harus cantik atau ganteng?
SUGOY
Film atau sinetron adalah potret kehidupan manusia. Sehingga berbagai karakter manusia di film, sama dengan kehidupan sehari-hari, kecuali film fiksi atau futuristic. Berarti seorang yang, maaf, nggak ganteng atau nggak cantik pun, berpeluang menjadi artis film asal sesuai dengan karakter dalam film itu.
POFi
Berarti siapa pun bisa menjadi artis atau pemain film ya, mas?
SUGOY
Iya! Yang penting dia cocok dan mempunyai kemampuan untuk memerankan tokoh tersebut.
POFi diam sejenak, merenungi kata-kata SUGOY.
POFi (OS)
Berarti setiap orang akan mempunyai peluang dong ya? Asal dia mau kerja keras dan meningkatkan kemampuan acting-nya.
Behind the scene FTV “BUNGA Jomblo Forever”
Nicky Tirta, Sinyo, dkk berperan sebagai siswa SMA bersama para pendatang baru potensial
(dok. Indosiar-2007)
SUGOY
Oya, apa motivasi kamu terjun ke dunia film, Pof?
POFi
Saya ingin menekuni karir sebagai artis, Mas. Menjadikan profesi artis sebagai mata pencarian saya. Dan yang terpenting saya cinta dengan dunia film. Saya ingin menyalurkan hobi saya di dunia acting.
SUGOY
Apa pun motivasi kamu, yang penting dalam mencapai tujuan kamu harus mempunyai motivasi yang tinggi. Karena diawal karir, kamu harus berusaha keras memperoleh pekerjaan sebagai pemain. Seringkali hasilnya tidak sesuai yang kamu harapkan. Penolakan pun akan menjadi bagian dari proses karir kamu.
POFi
Berarti mental kita juga harus kuat dong ya, Mas?
SUGOY
Kesuksesan dan kegagalan akan menghampirimu silih berganti. Tapi dengan mental yang kuat, kegigihan dan motivasi tinggi untuk sukses, akan membuat kamu berhasil.
POFi benar-benar merenungi kata-kata SUGOY. Ternyata bukan hanya kemampuan akting yang menjadi modal utama. Tapi faktor internal pun ternyata tidak kalah pentingnya. Ya, Motivasi, Mental, dan Kegigihan ternyata harus kita miliki untuk meraih sukses didunia film yang penuh persaingan ini.
Kembali Asistennya SUGOY datang dan memberitahu kalau semuanya sudah siap. Sutradara yang sering menggarap film-film remaja ini pun pamit pada POFi untuk melanjutkan shooting.
CUT TO :
Sumber : Buku POFi - Pegangan Orang Film
POFi Pas Buat Calon Artis
PROLOG
POFi, remaja 17 tahun yang baru saja lulus SMU. Sejak di SMP dia sudah hobi nonton film, termasuk sinetron atau pun FTV. Dia nggak peduli film bergenre horror, action, cinta atau drama keluarga sekalipun. Bagi POFi menonton film adalah kebutuhan. Dari situ dia mulai tertarik dengan dunia film, khususnya dunia seni peran. Setiap nonton film POFi selalu mengamati akting tokoh-tokohnya. So sebenarnya secara nggak langsung POFi mulai mempelajari akting.
Dia sering memandangi wajahnya di cermin, atau ngehayal sambil bicara sendiri di kamar. Kalo boleh jujur sih… POFi pengen jadi artis terkenal dan sukses seperti Dian Satro atau Nicolas Saputra.
Cita-cita itu terpendam sejak SMA kelas 2. Nah, setelah sekarang lulus SMA cita-citanya itu semakin menggebu-gebu. Tapi…. POFi bingung gimana caranya untuk menyalurkan hobinya berakting dan menembus dunia film. Masih adakah peluang untuk POFi?
Jelas masih ada, bahkan banyak banget kesempatan POFi or kamu-kamu yang ingin menekuni karir sebagai aktor atau aktris film dan sinetron.
Saat ini tidak kurang dari 20 rumah produksi dan 4 stasiun televisi (in house – maupun partnership) aktif memproduksi film dan sinetron. Rata-rata tiap rumah produksi minimal memproduksi Film Televisi (FTV) atau sinetron 1 judul, bahkan ada yang diatas 5 judul dalam satu bulan (berbeda dengan film yang proses pembuatannya lebih lama, sehingga hanya 1 atau 2 judul dalam satu tahun. Atau bahkan bisa 2 tahun sekali). Sudah pasti tiap judul membutuhkan artis, baik yang sudah terkenal, maupun pendatang baru untuk mengisi peran utama, peran pembantu utama, peran supporting, dan figuran.
Dengan semakin banyaknya diproduksi film lokal maupun sinetron, maka semakin banyak pula aktor dan aktris baru yang dibutuhkan. Nah berarti peluang kamu untuk berkarir di dunia film banyak ‘kan ? Tinggal gimana caranya kamu bisa memanfaatkan peluang itu.
Apa lagi ada fenomena industri film sangat membutuhkan wajah-wajah baru potensial, baik untuk pemain utama ataupun pendukung. Banyak film atau sinetron yang menampilkan peran utamanya adalah pendatang baru. Dan ternyata mereka sukses dan jadi bahan omongon. Sebut saja Nicolas Saputra di film Ada Apa dengan Cinta, begitu pun Reyvaldo di sinetron dengan judul yang sama. Laudya Cintya Bella dan Angie di film VIRGIN, Ringgo Agus Rahman di film JOMBLO, dan masih banyak lagi nama-nama beken yang merupakan pendatang baru di dunia film dan berhasil berebut hati penonton.
Kesimpulannya, remaja seperti kamu potensial banget masuk daftar pemain baru di industri film. Terus, bagaimana caranya ya?
Buku ini membantu kamu untuk membuka wawasan tentang semua yang ingin kamu ketahui untuk menjadi ARTIS film & sinetron. Karena dunia film sangat keras, baik karena ketatnya persaingan untuk masuk dan bertahan di dalamnya, maupun tuntutan pekerjaan sebagai artis itu sendiri. Dengan pengetahuan yang diperoleh dari buku ini, kamu bisa lebih mempersiapkan diri menghadapi tantangan yang akan datang.
Agar lebih mudah dimengerti buku ini dikemas dalam bentuk obrolan dengan menghadirkan tokoh POFi yang selalu ingin tahu lebih banyak tentang dunia yang akan digelutinya, Dunia Film. Format penulisan yang dikemas seperti sebuah skenario sengaja saya pilih agar kamu menjadi terbiasa dalam membaca skenario.
Selamat membaca. Semoga buku ini bisa membuka wawasan dan memberi inspirasi bagi kamu. Setiap usaha yang diiringi dengan rasa percaya diri, kerja keras, disiplin, dan berdoa, pasti akan membuahkan hasil yang maksimal. Selamat datang di dunia film!!! Kami menyambut hangat untuk kamu yang terjun ke dunia film dengan bekal yang cukup.
Bekal apa aja? Lanjut ke halaman berikut yuk…….!
Kamis, 31 Desember 2009
Biografi Sugoy Suhendra
Aku dan menulis
Aku terlahir dengan nama Suhendra. Tepat di center of the city of Indonesia, Jakarta, 3 Mei 1971. Aku muncul di keluargaku sebagai sulung dari tiga bersaudara.
Aku terlahir dengan nama Suhendra. Tepat di center of the city of Indonesia, Jakarta, 3 Mei 1971. Aku muncul di keluargaku sebagai sulung dari tiga bersaudara.
Awal kecintaanku terhadap dunia menulis, hmm.. itu adalah tentang proses di mana aku mulai bisa mengembangkan kreatifitas ideku, dari sebuah kata, membentuk kalimat, menjadi sebuah paragraf, dan seterusya. Secara resminya sih, setelah menginjak SMP, aku mulai konsen dan menggilai hobi tulis menulis. Misalnya kayak puisi dan cerpen. Tapi sayangnya, saat itu aku gak ngerti gimana cara nimbus ke penerbit atau media cetak. Jadi belum ada yang pernah dipublis.
Sebuah Cerita dari Rangkaian Kalimat
Nah, setelah masuk bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), aku mulai memberanikan diri buat mengirim beberapa tulisan cerpen, ke koran atau majalah-majalah remaja di Jakarta.
Grup majalah remaja ngetop di masa itu, adalah majalah ANITA Cemerlang, HAI, dan GADIS. Yup! Akhirnya aku mulai mencoba meluncurkan karyaku ke ANITA Cemerlang dan beberapa koran terbitan Jakarta. Tapi gak langsung direspon tuh. Kegigihanku benar-benar sedang diuji.
Sabar, tenang dan tekun, alias gak pantang menyerah, buat ngirim contoh tulisan ke berbagai media itu. Aku percaya aja, ntar pasti ada yang nyangkut.
Terbukti, akhirnya cerpen pertamaku dimuat di koran harian Terbit Minggu, edisi bulan Agustus 1988, berjudul Biarkan Kabut Itu. Happy? Pasti banget! Hmm, pokoknya langsung sujud syukur! Tapi aku tetap introspeksi bahwa semua itu adalah hasil sebuah kerja keras dan buat ngebuktiin kalau apa yang ada di otak kita itu bukan omong kosong, dan bisa disalurkan ke arah yang lebih baik. Oya! Saat itu aku belum memakai komputer, tapi mesin ketik manual.
Pasang Surut dalam Menulis
Menulis itu, kalau dirasakan, gak ubahnya seperti orang yang lagi pacaran. Ritmenya naik turun. Kondisi hati pun susah ditebak, dan kadang pula susah dimengerti. Secara, belum ada ditemuin rumus buat nemuin pasangan sehati atau soulmate, di dunia! Begitu juga hobi menulis ini. Tiba-tiba mulai muncul rasa jenuh, dan terbebani buat nerusin karya demi karyanya. Dan aku, dengan seenaknya gak mau ngelanjutin itu lagi. I do stop writing!
Aneh ya, rasanya.. itu kayak seorang ibu hamil, yang lagi nunggu kelahiran bayinya. Tapi setelah anaknya lahir, malah malas ngerawat apalagi ngejagain. Kan seharusnya kita bisa menjaga dan merawat apa yang sudah dikasih Tuhan, dengan cara yang baik. Layaknya seorang ibu yang selalu setia dan gak pernah bosen ngejaga kita dari bayi sampai sekarang. Nah, betapa indahnya kalau kita bisa merawat hobi kita seperti ketulusan hati Ibu kita. Betul gak..
Buat temen-temen sih, saranku, jangan mengabaikan kemampuan sekecil apa pun di dirimu. Percaya deh, kalau ditekunin, itu bisa menghasilkan, kok.
Btw, kenapa aku mutusin buat gak nulis lagi, karena ternyata tanpa sadar, aku adalah orang yang mudah bosan. Seperti, cuma pengen mencari sensasi baru dalam hal-hal yang aku ingini. Tapi di lain pihak, saat itu emang aku harus extra belajar buat meraih ranking terbaik di sekolahku (Alhamdulillah aku selalu masuk top ten rangking). Belakangan, aku berharap alasan ini cukup masuk akal, buat nenangin perasaanku yang selama ini merasa bersalah, karena sudah mengabaikan dunia tulis menulis ini. Seharusnya menulis adalah hobi, kesenangan, dan kebebasan berekspresi! Ingatlah itu..
Menuju Dunia Film
Setelah lulus dari SMA Negeri 23 Tomang Jakarta, pada tahun 1989. Aku mulai melirik dunia seni peran, dan memutuskan untuk belajar akting di Sanggar Eidelweis, Jakarta, yang dilatih dan dipimpin Aditya Gumay. Yah, meskipun aku cuma bisa aktif selama dua bulan saja.Tapi cukup banyak pengalaman baru yang aku dapatkan.
Anggap saja, di masa remajaku dulu, aku adalah orang yang paling gak bisa diam ( secara aktifitas dan pergaulan, karena dulu aku juga aktif di karang taruna dan pramuka). Padahal dulu aslinya aku cukup pendiam dan pemalu. Tapi alam terus membawaku ke dunia yang ga punya malu.. haa..ha.. (maksudnya, ga boleh pemalu. Asal gak malu-maluin, ya?!)
Angin keberuntungan rupanya sedang menerpa wajahku. Aku dan beberapa temanku, terpilih untuk mengikuti job training di Osaka, Jepang. Karena itu, aku meningalkan sanggar seni itu. Tepatnya, meninggalkan Indonesia.
Selama satu tahun di Jepang, memberiku atmosfer yang berbeda. Pastinya, karena beda budaya, masyarakat, geografis, dan hal-hal lainnya. Di sana, aku mempelajari banyak hal dengan rasa suka cita, biarpun ada kendala makanan, ikan (yah, karena aku sedikit bermasalah dengan mahluk yang satu ini. Maklum aku dilahirin dari keluarga Putri Duyung.... he..he..he.. just kidding! aku alergi ama ikan), dan musim salju yang dinginnya bukan main. Tentu saja, aku juga mempelajari strukur masyarakat Jepang yang terkenal dengan etos kerja yang tinggi, juga adat istiadat, seni tradisional, dan pastinya bahasa ‘Kanji’nya yang susah itu. Dari negara inilah, tercetus ide untuk menambahkan nama belakangku dengan kata Sugoy (Tulisan Jepangnya, Sugoi), yang artinya the great. Yup! Atas nama keindahan bunga Sakura, lengkap sudah namaku menjadi sosok baru yang dikenal dengan Sugoy Suhendra. Bukan bermaksud sombong dengan memiliki nama ini, tapi adalah awal baru untuk meringankan langkah kaki, menapaki dunia kerja dan kehidupan dengan semangat tinggi. Dan selalu semangant untuk mencapai The greatest!
Pencarian Jati Diri
Sepulangnya aku dari negeri Matahari Terbit itu, aku sempat bekerja di beberapa perusahaan Jepang di Jakarta. Tapi.. yah, kalau boleh mencantumkan salah satu tokoh idolaku ini, Seperti di bukunya Mas Andi F Noya, tentang Lentera Jiwa, ternyata memang jiwaku bukan di situ. Muncul rasa ‘kangen’ pada dunia seni. Baik itu seni peran dan menulis.
Sekitar tahun 1993, aku kembali belajar seni akting, kali ini di Surya Sine Studio pimpinan Ibu Azhary. Selain itu, di tahun 1993 -1994, aku juga menambah wawasan dengan mempelajari ilmu penyiaran di Interstudi Broadcasting School.
Bergelut dengan sekolah dan Pekerjaan
Setelah lulus dari Intersudi tahun 1994, aku memulai karir dengan bekerja sebagai asisten sutradara di serial televisi "Lain Sendiri" (pemain Jeremi Thomas, Lola Amaria, JihanFahira, alm. Ronny Setiawan). Garapan sutradara Chinmaya Relleta (Philipines).
Merasa masih sangat membutuhkan ilmu di bidang sinematografi, akhirnya tahun 1997 – 1998, aku memperdalam lagi ilmu sinematografi di Yayasan Pusat Perfilman-Usmar Ismail (YPPH-UI). Setelah lulus, aku bergabung di film "Reinkarnasi" garapan Dede Yusuf.
Belum selesai di situ saja. Kepuasan untuk selalu melengkapi khasanah ilmu di ruang-ruang otak dan jiwaku, terus bertambah. Layaknya manusia yang gak pernah puas akan sesuatu, tapi untungnya aku bisa mengarahkan ke hal yang benar. Menyadari bahwa kerja film adalah kerja tim, sehingga membutuhkan management dan managerial yang baik, aku akhirnya melanjutkan kuliah di Universitas Mpu Tantular Fakultas Ekonomi, Jurusan Management (angkatan 2002). Dan berhasil menyelesaikan strata satu (S1) pada tahun 2006 dengan tema skripsi "Pentingnya Pelatihan Untuk Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia".
Di antara tahun-tahun berharga tersebut, setelah beberapa kali loncat kerja dari satu perusahaan ke perusahaan lain, akhirnya tahun 2000, aku memutuskan untuk bergabung di stasiun televisi berlogo ikan terbang, Indosiar Visual Mandiri. Awal karirku di sana sebagai asisten sutradara. Alhamdulillah.., setelah 6 tahun di Indosiar, karirku mulai menemukan titik cerah. Sejak 2006 jabatanku meluncur sebagai sutradara.
Bagaimana dengan dunia menulisku. Bagaikan rindu dengan saudara kandung yang lama gak ketemu. Rasa kangenku menuntunku untuk kembali menulis lagi. Hingga akhirnya sejak dari tahun 1997 sampai sekarang, cerpen-cerpenku berhasil menembus ANITA Cemerlang, ANEKA Yess, Tabloid GAUL.
Progress terbarunya adalah, di tahun 2009 ini, alhamdulillah.., aku sudah berhasil menyelesaikan sebuah buku tentang akting. Aku beri judul, POFi (Pegangan Orang Film) - Asyiknya Acting (judul sementara, karena masih dalam proses editing).
Yup! Semoga ceritaku bisa memberikan inspirasi atau secuil pencerahan buat teman-teman dan siapa saja yang membaca blog ini. Bahwa, untuk meringankan sebuah beban pekerjaan, buat sesuatu itu semenarik mungkin, dan coba berpikir, bahwa bekerja itu ibaratnya seperti membangun sebuah rumah. Kalau ingin memiliki hunian yang nyaman, kita harus menyiapkan segala sesuatunya dengan detail, mulai dari semen, batu bata, beton, dll. Satu lagi, jangan coba mengkorupsi diri sendiri dalam membangun sebuah tempat tinggal. Karena hasilnya adalah penyesalan! So, semangat.. Ganbatte..!!!
Karir dan Filmografi
Akdan Filmografi
Karirku diawali sebagai asisten sutradara :
- Serial Putri Maharani (2000 - sutradara James Soma. Pemain : Meriam Bellina, Roy Marten, Dedi Sutomo, Pangky Suwito, Yati Octavia, Agus Kuncoro, Donna Hussein, alm. Ronny Setiawan)"
- Mini seri Di Langit Ada Sejuta Bintang (2001 - sutradara Eppo Wijaya. Pemain Utama : Cindy Fatika, Romeo)
- Serial laga Dendam Nyi Pelet (2002 - sutradara Ackiel Anwari & Reviudin. Pemain Utama : Mercy Ogotan, Irene Anastasia)
- Serial laga Kamandaka (2003 - sutradara Edi Jonathan & Reviudin. Pemain Utama Adam Fristan, Gita Indonesian Model, Chairil JM, )"
- film televisi musical "Asyik Juga Neeh (2004 - sutradara Reviudin. Pemain : Benigno, Sutha AFI, Novel Kondang In, Suci Indah Sari, baron Hermanto),
- film televisi musical Iseng-Iseng Jadi Beneran (2004 - sutradara Yuyu Wah. Pemain Utama : Sharmila, Harry Kondang In)
- film televisi musical Sewu Kutho (2005 - sutradara : Yuyu Wah. Pemain : Jovita AFI, Surya Kondang In, Elvy Kondang In, Anna Tairas, Johan Saimima).
Hingga akhirnya aku dipercaya menyutradarai film-film televisi :
- Blind Date (2006) : Gilbert Marciano, Lia AFI, Nessa Sadin, Aldiansyah Taher.
- Phantom of The Campus (2006) : Gilbert Marciano, Jill Carissa, Kiki Amalia, Aria Sondang, Sutha AFI, Leo AFI, Anwar Fawzi, Rizwar AFI, Sarastika.
- Ada Cinta Di Yogya (2006) : Hengky Kurniawan, Indah Pelapory, Debby Sahertian, Herdin Hidayat.
- Bunga Jomblo Forever (2007) : Indah Pelapory, Hengky Kurniawan, Nicky Tirta.
- Gara-Gara Sepatu (2007) : Ardina Rasti, Nicky Tirta, Aldiansyah Taher.
- Pacar Isi Ulang (2007) : Indah Pelapory, Harland Danz, Gilbert Marciano, Ongky Farid, Deby Ayu.
- Antara Kau, Aku & Cinta Itu (2007) : Marissa Jefryna, Eghi Jhon, Dwi Putrantiwi, Deby Ayu, Sarastika. Putra.
- Ketahuan Pacaran (2007) : Eksanti, Lady Veronica, Tody Wahyudi, Fendy Trihartanto
- One Man Four Luv (2008) : Mytha Mamamia, MC Rulis Fahlevy, Varissa Camelia, Jehan Siena, Ryana.
- Cinta Adinda (2008) : Ardina Rasti, Ayu Pratiwi, Christiansyah Martin, Ekky Christo.
- VT Mamamia
- VT Stardut
- Filler XL Pestaphoria
- Reality Anak Aku Ingin Tahu (2009) : Brian Austin, Gladys Verina.
Apa Sih Acting?
Acting (berperan) berasal dari kata to act, yang berarti beraksi.
Tapi sebenarnya banyak definisi acting, diantaranya, menurut ;
- OMMANNEY : acting adalah keselarasan yang sempurna antara suara dan tubuh untuk menciptakan suatu tokoh. Suara saat melontarkan dialog, dan tubuh saat melahirkan berbagai gerak, semuanya harus selaras dalam memberi gabaran seorang tokoh yang dibawakannya.
- USMAR ISMAIL : acting (the art of acting) adaah seni menafsirkan bukan seni mencipta. Tapi seorang pemain menafsirkan secara mencipta (kreatif) kehidupan daam segala bagian dengan menggunakan tubuh, pikiran, dan perasaannya.
- A.ADJIB HAMZAH : acting adalah peragaan, penampilan, satu peran yang menyebabkan penonton dapat tersangkut pada ilusi yang dibangun oleh seorang actor, Maka jika penampilan sang actor berhasil, reaksi penonton akan langsung sayang atau benci, sesuai karakter tokoh yang dipernakan.
- KONSTANTIN STANISLAVSKI : Acting adalah presentasi dari kehidupan. Yaitu menyajikan sikap dan laku manusia umum melalui jiwa-tubuh intelektual si actor, lewat tafsiran terhadap dirinya dan karakter tokoh yang diperankannya.
So? berarti siapa pun bisa acting. Yaps! Karena kita sebenarnya secara nggak sadar, sudah sering ber-acting.
Lalu bagaimana mengenali dan menggali potensi acting kita, sehingga kita bisa memerankan tokoh sesuai dengan skenario?
Untuk itu perlu diketahui juga, bahwa Acting dalam konteks ini adalah perpaduan antara :
1. atraksi fisikal (tubuh)
2. intelektual (analisis karakter dan naskah), serta
3. spiritual (transformasi jiwa)
Usaha seorang actor dalam melakoni seni acting adalah dengan mengembangkan :
a. kemampuan berekspresi
b. menganalisa naskah, dan
c. mentransformasi diri kedalam karakter yang ia mainkan.
Dengan menempa ketiganya, actor akan bisa membuka diri dan menyerap kekayaan pengalaman hidup dari si tokoh sesuai dengan konsep penulis naskah dan sutradara.
Untuk mencapai hal tersebut actor bisa mengolah kembali pengalaman hidup atau melihat situasi social di lingkungan sekitarnya.
Dalam buku Prepare for the actor (persiapan seorang actor), karya Konstantin Stanislavski, dalam metode acting realis, seorang actor harus mampu menyatukan dirinya kedalam personal si tokoh yang akan ia mainkan. Hal ini berarti berhubungan dengan kondisi batin. Karena kondisi batin inilah yang kelak akan menghasilkan permainan yang kaya dan kreatif serta presentasi yang natural. Sehingga proses penghayatan pun akan mengalir dengan kondisi batin yang baik.
Seorang actor juga harus diasah intuisi-nya, untuk mempelajari sifat-sifat manusiawi dalam kehidupan si tokoh yang akan dimainkannya, serta menuangkannya dalam batin atau biasa dikenal dengan proses inner-act.
The magic if (berakting sesuai dengan pengalaman pribadi)
Daftar Pustaka :
1. Pengantar Bermain Drama, A.Adjib Hamzah, CV Rosida Bandung, 1985
2. Acting Handbook, Panduan Praktis Akting Untuk Film & Teater, Rikrik El Saptaria, Rekayasa Sains, 2006.
3. Acting Untuk Film, Lee R. Bobker, Harcourt, Brace & Worl, Inc, 1969.
Langganan:
Postingan (Atom)






